Jenis-Jenis Clurit Madura Dan Cara Pembuatannya


Clurit Madura merupakan senjata tradisional khas orang Madura yang menjadi simbol dari harga diri dan kehormatan terutama harga diri untuk melindungi keluarga khususnya istri. Jaman dulu clurit digunakan sebagai senjata carok yaitu pertempuran satu lawan satu alias duel antara suami yang tidak terima istrinya diganggu orang lain dengan laki-laki yang mengganggu istrinya tersebut. Meski lebih dikenal sebagai senjata berbentuk bulan sabit, fungsi asli dari clurit adalah untuk kepentingan pertanian, namun peristiwa Sakera pada masa penjajahan mengubah makna dan fungsi dari clurit Madura.
Ragam karakteristik clurit Madura
Pada umumnya clurit Madura terdiri dari gagang kayu yang terbuat dari bermacam-macam jenis kayu, kemudian bilah clurit yang berbentuk sabit atau melengkung terbuat dari besi atau baja, dan sarung bilah clurit yang umumnya terbuat dari bahan kulit kerbau yang bentuknya mengikuti bentuk bilah dan hanya menutupi ¾ bilah agar mudah dipasang dan dilepas. Clurit pun memiliki beberapa ragamnya dengan ciri khasnya masing-masing, berikut adalah beberapa ragam clurit:
  1. Are’ mekkasen
Jenis clurit ini merupakan favorit bagi masyarakat Madura dan banyak digunakan oleh orang Madura terutama bagi warga Madura Utara. Nama Mekkasen diambil dari nama daerah tempat clurit ini dibuat yaitu Pamekasan. Are' Mekkasen paling disenangi masyarakat Madura karena memiliki bentuk yang bagus dan ketajaman yang baik karena dibuat dari bahan baja putih(Cakram).
Kelebihan dari clurit ini adalah ukurannya yang pas dan seimbang dengan panjang lengkungan sekitar 35-45 cm dan panjang gagang kayu yang dicat hitam atau coklat sekitar 7,5-10 cm dan pas di ukuran genggaman tangan orang dewasa. Are' Mekkasen fungsinya lebih kepada sekep yaitu senjata yang dibawa ke mana-mana untuk berjaga-jaga jika ada tantangan carok.
contohnya:
  1. Dangosok
Nama dangosok diambil dari sejenis pisang yang panjangnya melebihi rata-rata pisang pada umumnya karena clurit dangosok memang memiliki panjang lebih dari clurit pada umumnya. Memiliki bentuk melengkung yang mirip seperti pisang, bilah dangosok memiliki panjang hingga 60 cm dengan gagang kayu sepanjang 40 cm.
Dangosok biasanya hanya disimpan di rumah saja karena ukurannya yang sulit untuk dibawa-bawa. Namun keunggulan dari clurit ini adalah jangkauannya yang lebih luas dan bahannya yang berkualitas tinggi karena dibuat dari baja bekas rel kereta api atau Cakram Mobil.
Selain are' mekkasen dan dangosok, ada lagi macam clurit khas Madura seperti tekos-bu-ambu, lancor, bulu ajam, kembang turi, monteng, dan calo’ yang masing-masing memiliki ciri khas dalam hal bentuk dan variasi lengkungan clurit Madura.
Cara pembuatan clurit Madura
Membuat sebilah clurit Madura dilakukan oleh seorang pandai besi yang sudah berpengalaman. Cara membuat sebilah clurit pada umumnya sama dengan cara membuat pedang atau senjata lain yang serupa yaitu dengan menempa besi lalu dilakukan pembakaran, kemudian ditempa lagi hingga mendapatkan bentuk yang dikehendaki. Bahan yang digunakan adalah baja bekas rel kereta atau cakram mobil. untuk kualitas yang bagus dari clurit Madura.
Ada yang unik dalam proses pembuatan clurit Madura yaitu sebelum membuat pedang, pandai besi harus berpuasa terlebih dahulu. Peralatan membuat clurit juga tidak boleh diperlakukan sembarangan, contohnya adalah bantalan untuk menempa pedang yang setiap tahun pada Bulan Maulud disiram dengan air bunga. Air bunga tersebut sebelumnya didoakan di mushola bersama dengan sesajen lain seperti ayam panggang dan nasi. Bantalan penempa pedang ini tidak boleh diduki atau dilangkahi karena dipercaya merupakan benda sakral. Apabila dilanggar maka si pelanggar akan merasakan musibah atau kesialan.

no copas